Meretas Belenggu Sang Penghasil Devisa Bagian 2

Mudah-mudahan akan mencapai US$22 miliar,” tutur Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada seminar “Status Lahan Kebun Sawit dan Sertifikasi Pascakeputusan Mah kamah Konstitusi Nomor 138/ 2015” di Hotel Aryaduta, Jakarta, 5 September lalu. Nilai ekspor tersebut membalap nilai ekspor sektor migas yang sebesar US$15 miliar.

Pada acara yang digelar AGRINA bersama Palm Oil Strategic Policy Institute (PASPI) tersebut, Mukti memperlihatkan kinerja perdagangan sawit yang tetap biru artinya tetap plus di tengah kondisi neraca perdagangan defisit. “Jadi kalau sawit bermasalah, negara ini juga bermasalah. Kebijakan pemerintah dengan B20 (mandatory biodiesel) sangat bagus. Itu akan menyehatkan neraca perdagangan kita,” imbuh mantan Direktur Tanaman Tahunan, Ditjen Perkebunan, Kementan, itu. Kebijakan B20 ini baru diluncurkan 1 September 2018 ini dimaksudkan menyerap lebih banyak minyak sawit di dalam negeri untuk digunakan dalam produksi biodiesel.

Walhasil, impor bahan bakar minyak (BBM) bisa berkurang. Stok nasional minyak sawit berkurang juga dan diharapkan harga akan menguat. Penyelamat Dunia Nilai strategis sawit tidak sebatas pengalir devisa di Indonesia tapi juga memberi makan dunia. Kebutuhan minyak nabati dunia pada 2025, menurut Togar Sitanggang, akan bertambah sekitar 51 juta ton akibat pertambahan populasi. Bagaimana cara memenuhi kebutuhan itu? “Kalau kita bergantung pada sawit, kita perlu 13 juta ha lahan baru dengan produktivitas 3,96 ton/ ha.

Kalau rapeseed butuh 51,5 juta ha dengan produktivitas 0,99 ton/ha. Sementara jika mengandalkan minyak bunga matahari butuh 71,8 juta ton dengan produktivitas 0,71 ton/ha, dan kalau ber gantung pada minyak kedelai diperlukan lahan baru 98,1 juta ha dengan produktivitas 0,52 ton/ha,” papar Wakil Ketua Umum GAPKI di acara EuroCham. Jadi, kesimpulannya, sawit paling efektif dalam penggunaan lahan. Hal ini juga terlihat dari ekspansi lahan untuk penanaman minyak nabati di banyak negara yang meningkat akibat kenaikan permintaan.

Mengutip data Oil World, menurut Togar, pada periode 2012- 2017 lahan kedelai bertambah 13 juta ha, sementara sawit hanya bertambah 4,73 juta ha (lihat Tabel Pembukaan Hutan untuk Minyak Nabati). Hal senada dilontarkan Mahendra Siregar, Direktur Eksekutif CPOPC, dalam jumpa pers yang diselenggarakan Sinar Mas Agribusiness and Food di sela acara pertemuan dengan para pemasoknya di Jakarta, 19 September 2018.

“Dalam keterbatasan global land bank (hamparan tanah untuk pertanian) di dunia ini, sawit itu penyelamat dari peningkatan permintaan global yang pasti akan terjadi karena jumlah populasi dan daya beli khususnya negara emerging market meningkat. Itu satu. Kedua, sawit itu adalah tanaman yang masa produktifnya lebih dari 20 tahun diban dingkan sebagian atau seluruh lain yang sifatnya semusim,” ulas mantan Wakil Menteri Perdagangan itu.

Sarana Mencapai Tujuan SDG Dalam konteks negara-negara berkembang, PBB memasang target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals- SDGs) pada 2030. Dari 17 target SDGs, menurut Togar, pengembangan sawit cocok dengan 11 tujuan, lima tujuan primer dan enam tujuan sekunder.