Meretas Belenggu Sang Penghasil Devisa

Siapa bilang perkebunan sawit Indonesia hanya didominasi perusahaan-perusahaan besar? Dominasi yang mencolok itu sudah berakhir. Sejak 2000-an, kepemilikan kebun petani berkembang pesat. Dari 14 jutaan ha total luas kebun sawit nasional saat ini, milik petani 5,61 juta ha (40%), perusahaan swasta 7,07 juta (55%), dan 5% lainnya perusahaan pelat merah. Mendatangkan Kehidupan Lebih Baik Mengapa petani berminat mengusahakan sawit? “Sawit itu primadona. Banyak orang yang berkepentingan dan dengan sawit kita lebih sejahtera,” cetus H. Narno, Manajer Asosiasi Amanah dari Riau, mewakili suara sebagian dari mereka.

Berbicara dalam seminar yang digelar EuroCham (Kadin Eropa) dan Uni Eropa di Jakarta, 27 September silam, ia memaparkan alasan dan manfaat sawit bagi kehidupan para petani anggota asosiasi. “Investasi lahan murah, satu kavling dua hektar mampu dikelola sendiri. Aktivitas di kebun tidak setiap hari, hanya 1-3 minggu sekali sehingga juga bisa bekerja di tempat lain. Penjualan hasil produksi mudah, dan masa produksi tanaman panjang, 2025 tahun,” urainya di depan peserta seminar bertema “Working Together Towards Sustainable Palm Oil” itu.

Selain faktor teknis, tokoh petani swadaya tersebut memperlihatkan perubahan kehidupan yang jauh lebih layak dari sebelumnya dengan menampilkan potret rumah petani dan kantor asosiasinya. Mereka pun mudah memperoleh modal investasi dari perbankan. “Biaya pendidikan anak-anak juga lebih terjamin karena setiap bulan ada panen. Membuka lapangan kerja dan akses pasar lebih dekat,” imbuhnya.

Memang ia mengakui, tidak semua petani menikmati enaknya bertani sawit. Petani yang benar-benar mandiri menghadapi risiko tinggi ketika harga rendah seperti bulan-bulan terakhir ini. Menurutnya, harga tandan buah segar (TBS) akhir September lalu di level petani mandiri sekitar Rp750/kg. Sementara petani plasma perusahaan masih bisa mendapat harga lumayan, Rp1.350/kg.

Narno dan kawan-kawannya bukan petani asalan. Mereka mempraktikkan cara budidaya yang baik dan memenuhi kaidah berkelanjutan dengan bimbingan PT Asian Agri, salah satu perusahaan perkebunan sawit di Riau selaku pembeli TBS, World Wildlife Fund (WWF) dan Carrefour Foundation. Berkat bertani yang baik itu pula Amanah mampu meraih sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sejak enam tahun lalu dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) tiga tahun silam.

Produktivitas tanaman mereka pun tak kalah dengan perkebunan besar. “Produksi TBS bisa mencapai 23-25 ton/tahun,” ujar lelaki asal Wonogiri, Jateng, yang bermukim di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, itu dengan bangga. Wajar bila pendapatan mereka juga lebih baik dan akhirnya taraf hidup lebih baik pula. Di akhir paparan nya, Narno mengungkap kebutuhan spiritual sebagian anggotanya untuk umroh bersama secara gratis juga bisa tercapai berkat sawit.

Penopang Ekonomi Bangsa Cerita Narno itu mewakili komunitas petani. Bagaimana dengan kontribusi sawit di kancah nasional? “Produksi sawit kita sudah mencapai 42 ju ta ton, ekspor 31 juta ton. Jadi lebih dari 70% kita ekspor. Nilainya US$22,9 miliar tahun lalu atau setara Rp300 triliun lebih. Sampai Juli 2018 sudah mencapai US$11 miliar.