Peminat Rumah dan Ruko Berkurang

Peminat Rumah dan Ruko Berkurang

Bisnis hunian dan rumah toko (ruko) PT Modernland Reality Tbk tahun ini kurang atraktif. Namun, pengembang properti ini masih yakin mampu memenuhi seluruh target pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp 3 triliun di sepanjang 2018. Pasalnya, Modernland Realty tak cuma menggarap proyek hunian dan ruko. Mereka juga menjual lahan. Rumah tinggal dan ruko volumenya turun, tapi terjadi peningkatan di penjualan lahan milik perseroan sehingga bisa diimbangi, ungkap L.H. Freddy Chan, Wakil Direktur Utama Modernland Realty.

Selain peluang menutup penurunan penjualan hunian dan ruko dengan kenaikan penjualan lahan industri, pencapaian marketing sales Modernland Realty sudah cukup menenangkan. Januari sampai Juni lalu saja, mereka sudah mengumpulkan pendapatan prapenjualan Rp 2,5 triliun. Sebesar Rp 1,15 triliun dari pendapatan prapenjualan itu berasal dari pembelian lahan oleh PT Waskita Modern Real- ti. Modernland Realty memiliki 40% saham Waskita Modern Realti melalui PT Bagasasi Inti Pratama.

Lalu, 60% kepemilikan saham lainnya menjadi milik PT Waskita Karya Realty, anak usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Waskita Modern Realti berencana mengembangkan kota mandiri dengan konsep toll road city (TRC) yang kelak terintegrasi dengan Jalan Tol Tanjung Priok–Cibitung. Nanti, akan ada fasilitas transportasi dan sarana pendukung lain di kota mandiri itu.

Sayangnya, soal pencapaian kinerja hingga September, Modernland Realty tak bersedia mengungkapkan angkanya. Yang terang, berkaca dari capaian sepanjang semester I 2018, mereka hanya perlu mengejar sisa target pra penjualan Rp 500 miliar dalam enam bulan terakhir tahun ini. Sebagai perbandingan, selama paruh pertama tahun lalu Modernland Realty membukukan pendapatan prapenjualan Rp 1 triliun. Alhasil, sepanjang semester satu tahun ini, perusahaan berkode saham MDLN di Bursa Efek Indonesia tesebut mencatatkan pertumbuhan 2,5 kali lipat. Sementara kinerja pendapatan Modernland Realty di semester I-2018 menorehkan penurunan sebesar 2,79% year on year (yoy) menjadi Rp 1,39 triliun.

Beruntung, keuntungan yang bisa mereka atribusikan kepada pemilik entitas induk atawa laba bersih masih tumbuh 31,12% yoy menjadi Rp 181,49 miliar. Pendorong kenaikan laba bersih adalah penurunan beban keuangan. Beban keuangan turun karena ada penurunan suku bunga atas penerbitan guaranteed senior notes dari 9,75% menjadi 6,95%, beber Freddy.