Profil Achmad Dawami Ahli Unggas Asli Indonesia Bagian 2

Dunia Perunggasan

Lulus kuliah, Dawami bekerja sebagai sales di Cipen – da wa, perusahaan peternakan milik Probo Sutedjo di Jakarta. “Di situlah asal-muasalnya saya terjun di dunia peternakan. Dari situ saya menjual parent stock ke per – usahaan di Surabaya,” bukanya. Saat pulang ke kampung halaman, ia meneruskan bekerja di Wisma Farm, pembibitan ayam di Surabaya. Pada 1984 ayah dua anak itu bergabung dengan Japfa Comfeed Indonesia hingga kini. “Mulai dari belum me – nikah sampai sekarang sudah punya cucu, itu saya syu – kuri. Perjalanan hidup yang tidak terasa,” sambung Head of Marketing Broiler Commercial Poultry Division PT Ciomas Adisatwa itu. Ia kembali teringat pesan ayah akan pentingnya mencintai dan mendalami pekerjaan agar hidup enak serta bergaul dengan banyak orang. “Pe ternakan itu semua orang pasti terkait karena semua orang pasti butuh makan.

Jangan dikotak-kotak de – ngan disiplin ilmumu saja,” pesan ayah. Ada bermacam ilmu di sektor peternakan, seperti ma – tematika hingga fisika. Bahkan, kata Dawami, dunia pe – ternakan menyukseskan dunia lain. “Gara-gara peternakan tumbuh, maka peternak butuh truk untuk meng – angkut makanan ternak, hasil ternak, anak ayam, obatobatan. Maka, truk laris. Karyawannya butuh kendaraan maka mobil Toyota, Honda, Suzuki, laris. Perumahan juga laris. Multiplier effect-nya banyak sekali. Karena laris, mereka juga mementingkan bagaimana mengonsumsi protein melalui ayam, yang paling murah dan paling gampang dimasak,” serunya. Tidak lupa, penggemar telur dan daging ayam ini me – negaskan pentingnya mengangkat konsumsi daging ayam dan melakukan promosi sistematis. Pemerintah sangat berperan sebagai lokomotif pendongkrak konsumsi daging ayam nasional.

“Pernah dengar Menteri Kelautan dan Perikanan bilang, “Kalau tidak mau makan ikan, saya tenggelamkan!” Kelihatannya bercanda tapi itu promosi,” ulasnya. Ketika pemerintah bergerak, semua pihak mengikuti. “Kalau nanti konsumsinya naik, nggak usah disuruh, pro duksinya akan ikut. Para pengusaha juga promosi, seperti Japfa, Charoen, dan yang lain tapi promosinya tidak menyeluruh. Kalau yang melakukan pemerintah, ngomong saja seminggu sekali membahas masalah ayam di TV, itu dampaknya pasti ada,” cetusnya. Menurut dia, konsumsi itu masalah utama di industri per – unggasan. “Jangan sampai konsumsinya tidak me ningkat, industrinya tumbuh. Maka, akan terjadi kani balis me an tar – produsen. Pasarnya tetap, tidak dirang sang naik,” kritiknya. Ia menyarankan pemerintah menetapkan target kon sumsi ayam dan telur serta mengeva lua sinya. Beri kut nya, kalkulasi mundur kebutuhan grand parent stock dan pa rent stock ayam hingga bahan baku pakan serta penyebarannya.

Filosofi Hidup

Dalam keseharian, suami Ria Priba wanti ini mengaku menerapkan filoso fi hidup orang tua yang menjadi idola. Sa lah satu prinsip hidup ayah yang sa ngat mele kat ialah orang harus punya prinsip fleksibel ali – as tidak kaku, ke cuali menyangkut dua hal. “Satu ada lah agama. Agama itu mutlak. Yang ke dua harga diri. Har ga diri pun harus tahu diri, jangan ta ruh harga dirimu se tinggi la ngit,” jelas pria yang sangat mengidolakan ayahnya. Dari ibu bernama Atikah, Dawami be – lajar ketekunan, kesabaran, dan cara ber – interaksi. “Sama-sama berbicara ka lau bisa jangan menyakitkan hati. Itu prin sip ibu saya,” sambungnya. Lalu, ke nali betul kawan bicara agar pe san yang disampaikan diterima de – ngan baik. Ia juga me nerapkan ajaran Ki Ha djar Dewantara: hidup itu ni teni, niru, dan nambahi (meng amati, meniru, dan me nam bahkan).

“Jadi, diamati saja peri laku orang lalu di tiru tapi kita tambahi sesuai kon disi, si tuasi, dan ling kung – an yang kita hadapi saat itu,” tukasnya. Dawami mengaku serius ketika bicara bukan bermaksud guyon. Ia mencoba agar tidak bersikap merasa paling benar. “Saya punya pinsip “the boss is not always right but is still the boss”. Saya yakin bahwa bos itu tidak selalu benar. Dia manusia. Manusia tempatnya salah dan dosa. Tapi, dia bos. Kita harus hargai,” ulasnya. Karena itu, seorang staf harus berani mengutarakan pendapat karena menjalaninya. Namun jika atasan su – dah memutuskan, harus mengikuti dengan ikhlas dan semangat. Sebaliknya, “Sebagai bos pun juga harus men dengarkan apa yang disampaikan anak buah karena dia yang menjalankan. Setelah itu kita mikir, ya su – dah saya ikutin kamu untuk menaikkan motivasi atau saya punya pemikiran seperti ini,” tutupnya